Postingan

Catatan Perjalanan #37 : Pesan Tersirat

Gambar
Catatan Perjalanan #37 : Pesan Tersirat —bagaimana kalau mimpi bukan tentang ramalan buruk atau baik, tapi tentang keberanian memahami bagian-bagian hati yang belum sempat kita peluk? Aku sering bermimpi tentang ular. Entah kenapa, mereka selalu datang saat malam terasa terlalu sunyi. Kadang seekor, kadang banyak. Tapi yang paling aneh adalah—di mimpi itu beberapa kali, Mama juga ada. Mama yang sudah meninggal. Tidak selalu bicara. Kadang hanya berdiri jauh, seperti seseorang yang memastikan aku tidak tersesat terlalu jauh di dalam tidurku sendiri. Suatu malam, mimpinya terasa begitu nyata. Aku berada di sebuah kamar tua, seperti rumah-rumah zaman dulu. Dindingnya pucat kekuningan, catnya sedikit mengelupas. Ada lemari kayu besar dengan kaca yang buram dimakan usia. Kasurnya masih model lama—ranjang kayu tinggi dengan kelambu tipis menggantung seperti kabut kecil. Spreinya bercorak bunga-bunga kecil yang warnanya mulai pudar, seolah sudah terlalu lama menyimpan cerita orang-orang yang ...

Catatan Perjalanan #36 : Semesta Kecil di dalam Akar

Gambar
  Catatan Perjalanan #36: Semesta Kecil  di dalam Akar      “Aku ulang tahun hari ini!” kataku sambil memegang ujung gaun pesta pink yang mengembang seperti awan gula-gula. Rambutku dikepang dua dengan pita kecil di kanan kiri kepala. Tapi pesta ulang tahunku aneh sekali. Tidak ada taman bermain, tidak ada badut, bahkan tidak ada meja panjang penuh makanan. Aku berdiri di tengah labirin besar dari sulur akar serabut yang menjulang seperti lorong rahasia. Langit malam tampak dekat sekali, seperti bintang sedang menunduk untuk mendengar isi hatiku. “Kenapa aku di sini?” tanyaku kecil pada angin. Tapi angin hanya lewat pelan, membawa aroma bunga yang terasa sangat familiar—seperti aroma pelukan ibu.      Di ujung labirin, kata orang-orang kecil di kepalaku, ada banyak ular. Ular-ular itu menjaga jalan menuju sesuatu yang sulit dijelaskan. Aku takut. Sangat takut. “Kalau Mama masih ada, Mama pasti gandeng tangan aku…” gumamku sambil menunduk. Sudah la...

Catatan Perjalanan #35 Akar Serabut: Sementara Bertahan di Tanah yang Retak

Gambar
  Catatan Perjalanan #35 Akar Serabut: Sementara Bertahan di Tanah yang Retak " Tidak semua kehidupan dimulai dari tanah yang subur. Ada yang tumbuh di sela batu, di tanah yang terlalu lama memendam kemarau, atau di tempat-tempat yang bahkan nyaris melupakan bagaimana caranya berharap."  Hidup seringkali menjadi salah satu arena ujicoba yang menegangkan. Kadang terang benderang, kadang gelap gulita, semuanya bergantung pada cahaya. Namun anehnya, kehidupan tetap menemukan jalannya. Ia tidak selalu datang dengan bunga-bunga yang mekar, terkadang ia hanya hadir sebagai akar kecil yang diam-diam mencengkeram bumi agar dirinya tidak hanyut oleh nasib. Barangkali manusia juga demikian. Kita sering kali mengagumi mereka yang tampak tinggi menjulang, lupa bahwa ada bagian yang bekerja dalam gelap agar semua itu tetap berdiri. Kita melihat pencapaian, tetapi jarang bertanya tentang malam-malam panjang yang mereka lewati. Tentang sepi yang tidak pernah diceritakan. Tentang air mata ...

Catatan Perjalanan #34: Matahari Senja dan Puzzle nya

Gambar
Catatan Perjalanan #34: Matahari Senja dan Puzzle nya “Bahwa merayakan pertambahan usia bukan sekadar meniup lilin, tapi menyalakan pelita baru di relung jiwa; merangkul kepingan puzzle yang mulai saling menemukan tempatnya.” Hari ini, matahari seakan sengaja menyingkap sinarnya lebih lembut. Tidak meledak terang, tidak pula suram—hanya jingga hangat yang membelai pipi. Di atas ladang bunga matahari, seorang anak perempuan muncul dari lipatan kardus ingatan, menenteng satu kotak puzzle yang perlahan mulai lengkap. Tahun ini terasa sungguh berbeda dari perayaan-perayaan sebelumnya. Tak lagi hanya sekadar doa panjang yang kupintal sendirian di tepi ranjang. Tak hanya sekadar kue ulang tahun dengan lilin kecil, atau bisikan harapan yang sering kali samar. Kini, di puncak usia yang menua bersama rasi Cancer yang sabar, satu demi satu potongan hidup mulai menemukan tempatnya. Aku menengok ke belakang, mengingat seorang gadis dengan kepangan rambut dan gaun merah jambu, yang bertahun-tahu...

Catatan Perjalanan #33: Bapak Penjual Buku Panduan Sholat

Gambar
Catatan Perjalanan #33: Bapak Penjual Buku Panduan Sholat Langit Purwokerto sudah menggelap ketika aku melangkah masuk ke Pasar Manis. Hiruk-pikuk masih terasa; suara pedagang menawarkan dagangan, orang-orang bercengkerama, dan aroma makanan yang menggoda. Aku berjalan menuju warung sop kaki kambing langgananku, memilih duduk di pojokan dekat tembok. Di sebelahku, dua orang pria muda berbicara dengan logat yang tidak asing—mungkin mahasiswa dari daerah Blokag Wetan. Mereka sibuk membahas sesuatu, entah tugas kuliah atau rencana akhir pekan. Di sisi lain, ada sepasang laki-laki dan perempuan, bisa jadi pasangan kekasih atau suami istri. Mereka makan dengan tenang, sesekali saling tersenyum di antara sendok dan suapan. Aku menikmati sop kaki kambing yang tersaji panas di hadapanku. Kuahnya kental, dengan aroma rempah yang kuat. Aku menyeruput perlahan, menikmati kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh. Sambil makan, aku memperhatikan sekitar. Ada keluarga yang sibuk mengurus balita mer...

Catatan Perjalanan #32: Lelaki Penyusun Puzzle

Gambar
Catatan Perjalanan #32: Lelaki Penyusun Puzzle Hari ini adalah hari istimewa, hari di mana dunia memperkenankan kehadiranmu, lelaki yang telah mengisi sudut-sudut dalam kisah ini. Seperti kepingan puzzle yang perlahan tersusun, kau hadir melengkapi bagian yang selama ini terasa tak sempurna. Aku mengingat pertemuan pertama kita, bagaimana kau dengan caramu sendiri menata ulang kepingan yang sempat berserak. Kau hadir dengan menenangkan. Mungkin saja kau adalah lelaki penunggu danau syurga, membawa aliran jernih yang menyejukkan setelah kemarau panjang. Aku tak tahu bagaimana caramu melakukannya, tetapi perlahan, aku mulai percaya bahwa ada seseorang yang memang diciptakan untuk menyusun puzzle kehidupanku. Setiap percakapan kita tentang masa depan, mimpi, dan perjalanan yang ingin kita tempuh bersama selalu menjadi momen yang ingin kuabadikan. Aku berkata bahwa memilih pasangan hidup itu seperti menyusun puzzle—membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kesadaran bahwa tidak semua potonga...

Catatan Perjalanan #31: Menjadi Pemimpin Perempuan antara Harapan, dan Perjuangan

Gambar
Catatan Perjalanan #31: Menjadi Pemimpin Perempuan antara Harapan dan Perjuangan Akan ada hari dimana kau dijatuhkan, diremehkan dan dilempar sedemikian jauhnya. Tetapi tidak dengan niat baikmu mengubah dunia. Ia akan tetap disitu menunggumu mewujudkannya. Nia Nur Pratiwi         Dulu, banyak yang berpikir kalau kepemimpinan itu urusan laki-laki. Perempuan? Ya, di belakang layar saja. Tapi aku merasa bahwa aku juga bisa menjadi pemimpin, meskipun aku bukanlah seseorang yang kaya raya atau memiliki latar belakang istimewa. Aku percaya bahwa kepemimpinan bukan tentang harta atau status, tapi tentang keberanian dan tekad. Bisa jadi mereka yang mau membeli jabatan dengan uang adalah orang-orang yang sebetulnya tidak bisa memimpin, akan tetapi hanya bisa mengambil alih harta saja. Mengambil kekuasaan dan memanfatkannya dengan semena-mena tanpa mengedepankan hati nurani yang bersih dalam etika yang baik. Tantangan di Depan Mata        Menjadi pemimpin p...