Catatan Perjalanan #36 : Semesta Kecil di dalam Akar
“Aku ulang tahun hari ini!” kataku sambil memegang ujung gaun pesta pink yang mengembang seperti awan gula-gula. Rambutku dikepang dua dengan pita kecil di kanan kiri kepala. Tapi pesta ulang tahunku aneh sekali. Tidak ada taman bermain, tidak ada badut, bahkan tidak ada meja panjang penuh makanan. Aku berdiri di tengah labirin besar dari sulur akar serabut yang menjulang seperti lorong rahasia. Langit malam tampak dekat sekali, seperti bintang sedang menunduk untuk mendengar isi hatiku. “Kenapa aku di sini?” tanyaku kecil pada angin. Tapi angin hanya lewat pelan, membawa aroma bunga yang terasa sangat familiar—seperti aroma pelukan ibu.
Di ujung labirin, kata orang-orang kecil di kepalaku, ada banyak ular. Ular-ular itu menjaga jalan menuju sesuatu yang sulit dijelaskan. Aku takut. Sangat takut. “Kalau Mama masih ada, Mama pasti gandeng tangan aku…” gumamku sambil menunduk. Sudah lama Mama pergi. Orang dewasa bilang Mama meninggal. Tapi aku sering bingung dengan kata pergi. Kalau pergi, kenapa aku masih sering merasa dipeluk saat sedang sedih? Kenapa kadang ada doa yang terasa seperti suara lembut sedang menjagaku?
Tiba-tiba di dinding akar serabut muncul cahaya kecil seperti kunang-kunang. Cahaya itu perlahan membentuk sosok perempuan memakai kebaya sederhana berwarna lembut. Wajahnya tidak terlalu jelas, tapi entah kenapa dadaku langsung hangat. “Mama?” suaraku bergetar. Sosok itu tersenyum. Tidak banyak bicara, hanya mengusap udara di dekat pipiku, tapi aku benar-benar merasa seperti ada tangan hangat menyentuh rambut kepangku. “Aku tidak pernah benar-benar pergi,” katanya pelan, seperti suara yang datang dari dalam doa.
“Aku takut sama ular di ujung sana…” kataku sambil hampir menangis. Sosok ibu itu menatapku lama. “Takut itu tidak salah,” katanya lembut, “tapi keberanian lahir bukan saat kita tidak takut. Keberanian lahir saat kita tetap berjalan meski hati gemetar.” Aku menggigit bibir kecilku. “Mama ikut aku?” tanyaku cepat. Ia tersenyum lagi. “Aku ada di setiap langkah yang kamu doakan.”
Aku berjalan perlahan. Di persimpangan pertama, seekor ular emas muncul dari balik akar. Biasanya aku pasti lari. Tapi sebelum takutku tumbuh besar, tiba-tiba angin berhembus membawa aroma yang sama—aroma ibu. Seperti ada bisikan lembut, “Lihat lebih dekat, jangan hanya lihat rasa takutmu.” Aku memberanikan diri mendekat. Ular emas itu ternyata hanya menunduk sopan. “Tidak semua yang tampak menyeramkan datang untuk menyakitimu,” katanya.
Semakin jauh aku berjalan, labirin terasa semakin indah. Akar-akar serabut seperti tangan yang saling menggenggam di bawah tanah. Aku berpikir, mungkin cinta juga begitu—kadang tidak terlihat, tapi diam-diam menopang hidup seseorang. “Mama, kalau Mama sudah di surga, kenapa aku masih merasa Mama dekat?” tanyaku pada langit. Cahaya kecil di atas kepalaku berkedip lembut. Lalu suara itu datang lagi, hangat sekali, “Karena cinta ibu tidak selesai saat tubuh berhenti. Ia berubah menjadi doa.”
Di tikungan terakhir, ular-ular besar berkumpul di depan jalan. Kakiku gemetar. “Aku nggak sanggup…” bisikku. Lalu tiba-tiba cahaya ibu muncul lagi di sampingku. Kali ini lebih terang. Ia tidak memegang tanganku, tapi bayangannya berjalan tepat di sebelahku. “Kamu lebih kuat dari yang kamu kira,” katanya. “Dan setiap kali kamu merasa sendiri, ingat… ada doa yang tidak pernah berhenti menyebut namamu.” Aku menarik napas kecil, lalu melangkah maju.
Aneh sekali. Ular-ular itu malah membuka jalan. Tidak ada desisan marah. Tidak ada ancaman. Di balik mereka justru ada taman luas seperti alam semesta kecil. Planet-planet kecil menggantung di udara, bunga bercahaya tumbuh di tanah, dan di tengah taman ada kue ulang tahun besar berwarna pink dengan lilin berjumlah enam. Aku menutup mulutku sendiri karena terlalu kagum. “Ini buat aku?” tanyaku pelan. Seekor ular tua mengangguk. “Kami menjaga tempat ini sampai kamu cukup berani untuk tiba.”
Lalu aku melihat sesuatu yang membuat mataku basah. Di dekat kue itu berdiri sosok ibu, kali ini lebih jelas. Ia tersenyum seperti dulu—senyum yang rasanya bisa menyembuhkan hari paling buruk. “Mama…” suaraku pecah. Aku berlari, tapi anehnya tubuhnya berubah menjadi ribuan cahaya kecil sebelum aku sampai. Tidak hilang. Hanya berubah bentuk. Cahaya itu mengelilingiku seperti pelukan yang tidak terlihat. “Aku ada di keajaiban-keajaiban kecil hidupmu,” suara ibu berbisik lembut. “Saat kamu hampir jatuh tapi tetap kuat. Saat pintu terbuka di waktu yang tepat. Saat hatimu tenang tanpa alasan. Di situ Mama sedang mendoakanmu.”
Aku memejamkan mata di depan lilin ulang tahun. “Kalau boleh satu harapan…” kataku lirih, “…aku ingin tidak lupa bahwa aku dicintai, bahkan oleh seseorang yang sudah tidak bisa kupeluk.” Angin malam meniup pelan. Lilin bergoyang kecil seperti ikut mendengar. Dan malam itu aku mengerti: kehilangan ternyata bukan akhir dari cinta. Kadang orang yang kita rindukan tidak benar-benar pergi—mereka hanya berubah menjadi doa paling sunyi, keajaiban paling sederhana, dan keberanian kecil yang diam-diam menjaga kita tetap hidup. “Selamat ulang tahun,” bisikku sambil tersenyum kecil ke langit, “terima kasih, Ma… karena tidak pernah benar-benar meninggalkan aku.”

Komentar
Posting Komentar