Catatan Perjalanan #37 : Pesan Tersirat


Catatan Perjalanan #37 : Pesan Tersirat

—bagaimana kalau mimpi bukan tentang ramalan buruk atau baik, tapi tentang keberanian memahami bagian-bagian hati yang belum sempat kita peluk?

Aku sering bermimpi tentang ular. Entah kenapa, mereka selalu datang saat malam terasa terlalu sunyi. Kadang seekor, kadang banyak. Tapi yang paling aneh adalah—di mimpi itu beberapa kali, Mama juga ada. Mama yang sudah meninggal. Tidak selalu bicara. Kadang hanya berdiri jauh, seperti seseorang yang memastikan aku tidak tersesat terlalu jauh di dalam tidurku sendiri.

Suatu malam, mimpinya terasa begitu nyata. Aku berada di sebuah kamar tua, seperti rumah-rumah zaman dulu. Dindingnya pucat kekuningan, catnya sedikit mengelupas. Ada lemari kayu besar dengan kaca yang buram dimakan usia. Kasurnya masih model lama—ranjang kayu tinggi dengan kelambu tipis menggantung seperti kabut kecil. Spreinya bercorak bunga-bunga kecil yang warnanya mulai pudar, seolah sudah terlalu lama menyimpan cerita orang-orang yang pernah tidur di sana.

Di kamar itu ada dua ekor ular.

Mereka tidak bergerak liar. Hanya diam. Seekor melingkar di dekat kaki ranjang, satunya lagi berada dekat jendela kayu yang sedikit terbuka. Anehnya, aku tidak terlalu takut seperti biasanya. Takutku ada, tapi terasa seperti takut kepada sesuatu yang ingin bicara, bukan ingin melukai.

“Aku harus bagaimana?” tanyaku pelan pada kamar yang sunyi.

Lalu terdengar suara pintu kayu bergeser sedikit. Kreeekkk…

Di balik pintu kamar, ada sesuatu yang membuatku terpaku.

Seekor ikan mas besar.

Besar sekali. Sisiknya berkilau keemasan, matanya tenang seperti seseorang yang sudah mengerti banyak hal. Tubuhnya hampir memenuhi ruang balik pintu, tapi anehnya tidak terasa mengerikan. Justru terasa damai. Seperti melihat sesuatu yang sangat tua, sangat bijaksana, dan sangat mengenal diriku.

“Kenapa ada ikan di sini?” tanyaku bingung.

Lalu suara Mama terdengar, lembut sekali, seperti datang dari jauh namun dekat bersamaan.

“Tidak semua yang kamu takutkan datang dengan bentuk yang sama.”

Aku menoleh. Mama duduk di tepi kasur tua itu. Mengenakan baju sederhana seperti dulu di rumah. Tidak bercahaya, tidak menyeramkan—hanya seperti Mama yang sedang menungguku pulang. Tangannya menepuk sisi kasur pelan, menyuruhku duduk.

“Aku takut sama ular…” kataku lirih.

Mama tersenyum kecil.

“Ular dalam mimpi kadang bisa jadi ketakutanmu. Kadang perubahan hidupmu. Kadang sesuatu yang belum selesai kamu pahami,” katanya pelan. “Tapi lihat baik-baik. Mereka diam, kan?”

Aku memperhatikan dua ular itu lagi. Benar. Mereka hanya diam.

“Terus ikan mas itu apa?” tanyaku sambil menunjuk ke arah pintu.

Mama memandang pintu cukup lama.

“Mungkin harapan,” katanya. “Mungkin rezeki. Mungkin sesuatu yang besar sedang menunggumu setelah kamu berani membuka pintu dari rasa takutmu sendiri.”

Aku diam.

Lalu Mama berkata lagi, kali ini lebih pelan:

“Atau mungkin… itu cuma cara hatimu merindukan rasa aman.”

Aku tidak tahu kenapa, tapi kalimat itu membuat dadaku hangat.

Sebelum aku sempat bertanya lagi, Mama berdiri lalu merapikan ujung selimut di kasur tua itu seperti kebiasaannya dulu.

“Kalau nanti kamu bangun,” katanya sambil tersenyum, “jangan terlalu sibuk mencari arti mimpi di luar dirimu. Kadang mimpi cuma hati yang sedang berbicara dengan bahasa simbol.”

“Terus Mama beneran datang?” tanyaku cepat.

Mama tersenyum. Lama sekali.

“Mungkin dalam rindu. Mungkin dalam doa. Mungkin dalam cara hidupmu tetap kuat.”

Lalu aku terbangun.

Pagi itu, aku masih ingat jelas kamar tua, dua ular yang diam, dan ikan mas besar di balik pintu. Dan untuk pertama kalinya aku bertanya pada diri sendiri—bagaimana kalau mimpi bukan tentang ramalan buruk atau baik, tapi tentang keberanian memahami bagian-bagian hati yang belum sempat kita peluk?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan #34: Matahari Senja dan Puzzle nya

Catatan Perjalanan #22: Lebaran Tahun ini, Mae pulang dulu

Esai #13: Internialisasi Nilai Satra Dalam Pendidikan Karakter di Era Milenilal