Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Catatan Perjalanan #37 : Pesan Tersirat

Gambar
Catatan Perjalanan #37 : Pesan Tersirat —bagaimana kalau mimpi bukan tentang ramalan buruk atau baik, tapi tentang keberanian memahami bagian-bagian hati yang belum sempat kita peluk? Aku sering bermimpi tentang ular. Entah kenapa, mereka selalu datang saat malam terasa terlalu sunyi. Kadang seekor, kadang banyak. Tapi yang paling aneh adalah—di mimpi itu beberapa kali, Mama juga ada. Mama yang sudah meninggal. Tidak selalu bicara. Kadang hanya berdiri jauh, seperti seseorang yang memastikan aku tidak tersesat terlalu jauh di dalam tidurku sendiri. Suatu malam, mimpinya terasa begitu nyata. Aku berada di sebuah kamar tua, seperti rumah-rumah zaman dulu. Dindingnya pucat kekuningan, catnya sedikit mengelupas. Ada lemari kayu besar dengan kaca yang buram dimakan usia. Kasurnya masih model lama—ranjang kayu tinggi dengan kelambu tipis menggantung seperti kabut kecil. Spreinya bercorak bunga-bunga kecil yang warnanya mulai pudar, seolah sudah terlalu lama menyimpan cerita orang-orang yang ...

Catatan Perjalanan #36 : Semesta Kecil di dalam Akar

Gambar
  Catatan Perjalanan #36: Semesta Kecil  di dalam Akar      “Aku ulang tahun hari ini!” kataku sambil memegang ujung gaun pesta pink yang mengembang seperti awan gula-gula. Rambutku dikepang dua dengan pita kecil di kanan kiri kepala. Tapi pesta ulang tahunku aneh sekali. Tidak ada taman bermain, tidak ada badut, bahkan tidak ada meja panjang penuh makanan. Aku berdiri di tengah labirin besar dari sulur akar serabut yang menjulang seperti lorong rahasia. Langit malam tampak dekat sekali, seperti bintang sedang menunduk untuk mendengar isi hatiku. “Kenapa aku di sini?” tanyaku kecil pada angin. Tapi angin hanya lewat pelan, membawa aroma bunga yang terasa sangat familiar—seperti aroma pelukan ibu.      Di ujung labirin, kata orang-orang kecil di kepalaku, ada banyak ular. Ular-ular itu menjaga jalan menuju sesuatu yang sulit dijelaskan. Aku takut. Sangat takut. “Kalau Mama masih ada, Mama pasti gandeng tangan aku…” gumamku sambil menunduk. Sudah la...

Catatan Perjalanan #35 Akar Serabut: Sementara Bertahan di Tanah yang Retak

Gambar
  Catatan Perjalanan #35 Akar Serabut: Sementara Bertahan di Tanah yang Retak " Tidak semua kehidupan dimulai dari tanah yang subur. Ada yang tumbuh di sela batu, di tanah yang terlalu lama memendam kemarau, atau di tempat-tempat yang bahkan nyaris melupakan bagaimana caranya berharap."  Hidup seringkali menjadi salah satu arena ujicoba yang menegangkan. Kadang terang benderang, kadang gelap gulita, semuanya bergantung pada cahaya. Namun anehnya, kehidupan tetap menemukan jalannya. Ia tidak selalu datang dengan bunga-bunga yang mekar, terkadang ia hanya hadir sebagai akar kecil yang diam-diam mencengkeram bumi agar dirinya tidak hanyut oleh nasib. Barangkali manusia juga demikian. Kita sering kali mengagumi mereka yang tampak tinggi menjulang, lupa bahwa ada bagian yang bekerja dalam gelap agar semua itu tetap berdiri. Kita melihat pencapaian, tetapi jarang bertanya tentang malam-malam panjang yang mereka lewati. Tentang sepi yang tidak pernah diceritakan. Tentang air mata ...