Catatan Perjalanan #38 : Di Bawah Matahari Jingga dan Bulan Purnama

 


Catatan Perjalanan #38 : Di Bawah Matahari Jingga dan Bulan Purnama

"Kita mungkin tidak menyadari , tapi terkadang Tuhan justru terharu bukan karena keberhasilan kita melainkan karena ketulusan kita dalam berusaha. - Sabrang MDP


Ada beberapa perjalanan yang sejak awal terasa biasa saja, tetapi ketika semuanya selesai, kita baru menyadari bahwa perjalanan itu diam-diam telah mengubah banyak hal dalam diri kita. Begitulah yang kurasakan ketika memulai perjalanan menuju Blora pada Jumat malam, 31 Juli 2026. Saat itu aku sama sekali tidak membayangkan bahwa dua hari yang akan kulewati di kota itu kelak menjadi salah satu bab yang paling sering kuingat dalam perjalanan hidupku.

Malam itu aku berangkat seorang diri dari Jakarta menggunakan kereta. Hiruk-pikuk ibu kota perlahan tertinggal ketika rangkaian kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun. Di luar jendela, lampu-lampu kota memanjang seperti garis-garis cahaya yang perlahan menghilang ditelan gelapnya malam. Di dalam gerbong, sebagian penumpang memilih beristirahat, sebagian lagi masih sibuk dengan ponsel atau berbincang pelan dengan teman seperjalanan. Sementara itu, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan memandangi jendela, membiarkan pikiranku berjalan lebih jauh daripada rel yang sedang kulalui.

Aku berangkat tanpa rombongan. Perjalanan itu justru memberiku ruang untuk berdialog dengan diriku sendiri. Sesekali kubuka kembali agenda pleno yang akan dilaksanakan keesokan harinya. Aku mencoba membayangkan bagaimana jalannya forum, isu-isu yang akan dibahas, hingga kemungkinan dinamika yang akan muncul. Namun semua itu masih terasa seperti rutinitas organisasi. Bagiku, rapat pleno saat itu hanyalah satu agenda yang harus diselesaikan sebagaimana forum-forum sebelumnya. Aku sama sekali tidak memiliki firasat bahwa perjalanan ini akan mengubah cara pandangku tentang kepemimpinan.

Menjelang dini hari, kereta terus melaju membelah gelapnya malam. Aku sempat memejamkan mata beberapa saat, lalu kembali terbangun ketika cahaya matahari mulai menyelinap dari ufuk timur. Pemandangan di luar jendela berubah. Gedung-gedung tinggi telah berganti menjadi hamparan sawah, pepohonan hijau, dan desa-desa yang masih diselimuti embun pagi. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah alam sedang mempersiapkan batinku sebelum memasuki dua hari yang penuh dinamika.

Sesampainya di Blora, aku langsung menuju lokasi kegiatan. Di sanalah aku mulai bertemu dengan teman-teman dari berbagai DPC dan jajaran DPD IMM Jawa Tengah yang datang melalui perjalanan mereka masing-masing. Suasana segera terasa hangat. Kami saling menyapa, bertukar cerita tentang perjalanan, perkembangan organisasi di daerah masing-masing, hingga candaan ringan yang membuat lelah setelah menempuh perjalanan panjang perlahan menghilang. Tidak ada pembicaraan yang terlalu serius. Kami masih menganggap bahwa pleno hanyalah forum organisasi yang biasa kami jalani setiap periode.

Sore itu Blora terlihat begitu indah. Matahari menggantung bulat di langit sebelah barat. Warnanya jingga pekat, seolah seluruh langit sedang dilukis dengan sapuan warna keemasan. Aku masih mengingat pemandangan itu dengan sangat jelas. Cahaya matahari memantul di dedaunan, menyelinap di sela-sela bangunan, lalu perlahan menghilang ketika senja mulai turun. Aku sempat berhenti beberapa saat hanya untuk memandangi langit. Barangkali saat itu aku hanya ingin menikmati sore setelah perjalanan panjang dari Jakarta. Namun sekarang, ketika mengingatnya kembali, rasanya seperti ada pesan yang sedang disampaikan alam: bahwa setiap hari akan berakhir, tetapi setiap akhir selalu membawa permulaan yang baru.

Sesampainya di lokasi, kami diarahkan menuju tempat menginap yang telah disiapkan panitia. Tidak lama kemudian muncul informasi bahwa seluruh peserta dipindahkan ke hotel lain yang jauh lebih baik. Perubahan itu mungkin terdengar sederhana. Tidak ada hubungannya dengan jalannya rapat. Namun entah mengapa, sampai hari ini aku masih mengingatnya. Aku percaya bahwa Tuhan sering kali menghibur manusia melalui hal-hal kecil yang nyaris tidak dianggap penting. Sebuah kamar yang lebih nyaman, makanan yang cukup, atau sekadar perjalanan yang dimudahkan. Hal-hal kecil itu sering kali menjadi penguat sebelum seseorang menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar.

Rapat pleno sebenarnya dijadwalkan dimulai pukul tiga sore. Namun seperti banyak forum organisasi lainnya, dinamika membuat semuanya berubah. Satu demi satu penyesuaian dilakukan hingga akhirnya rapat baru benar-benar dimulai sekitar pukul sepuluh malam. Hampir tujuh jam kami menunggu. Ada yang memilih beristirahat, ada yang berdiskusi di lobi hotel, ada pula yang mulai membaca situasi dan memetakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti malam. Waktu terasa berjalan lambat. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang benar-benar mengeluh. Mungkin kami semua sudah terbiasa bahwa organisasi tidak pernah berjalan persis seperti yang tertulis di dalam rundown.

Malam datang dengan sangat terang. Langit Blora bersih tanpa banyak awan. Bulan purnama menggantung sempurna di atas kepala, memancarkan cahaya yang begitu benderang hingga halaman hotel tidak lagi terasa gelap. Aku beberapa kali keluar ruangan hanya untuk menghirup udara malam. Rasanya tenang. Sulit dipercaya bahwa di balik langit yang begitu damai, di dalam ruang rapat sedang berlangsung perdebatan yang cukup melelahkan.

Forum dimulai dengan laporan pertanggungjawaban setiap bidang. Satu per satu pimpinan menyampaikan capaian, hambatan, dan evaluasi selama masa kepengurusan. Diskusi berjalan cukup hidup. Kritik disampaikan, saran diberikan, sesekali diselingi tawa yang mencairkan suasana. Namun ketika pembahasan mulai bergeser pada agenda Muktamar, atmosfer ruangan berubah. Pembicaraan menjadi lebih serius. Setiap kalimat mulai memiliki bobot politik. Setiap pendapat tidak lagi sekadar usulan, tetapi juga menggambarkan cara pandang tentang masa depan organisasi.

Jarum jam terus bergerak melewati tengah malam. Rasa lelah mulai terlihat di wajah hampir semua peserta. Beberapa cangkir kopi berganti dengan cangkir berikutnya. Ada yang memilih berdiri di belakang ruangan agar tidak mengantuk, ada yang sesekali keluar untuk menghirup udara malam sebelum kembali masuk mengikuti jalannya forum. Anehnya, semakin malam, pembicaraan justru semakin hidup. Seolah-olah kelelahan tidak mampu mengalahkan semangat setiap orang untuk memperjuangkan apa yang mereka yakini.

Sekitar pukul dua dini hari, forum memasuki sesi lobi. Kupikir pembicaraan itu tidak akan berlangsung lama. Nyatanya, kami baru kembali ke forum utama sekitar pukul setengah lima pagi. Hampir dua setengah jam dihabiskan untuk berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil. Tidak ada mikrofon. Tidak ada meja pimpinan. Hanya lingkaran-lingkaran percakapan yang berpindah dari satu sudut ke sudut lainnya.

Di ruang-ruang kecil itulah aku mendengar berbagai narasi yang menarik. Ada yang berbicara tentang usia sebagai ukuran kematangan. Ada yang mengatakan bahwa organisasi membutuhkan figur tertentu karena alasan pengalaman. Ada pula yang terus mengulang kata momentum. Menurut mereka, ada kesempatan yang hanya datang sekali dalam hidup seseorang. Jika dilewatkan, kesempatan itu belum tentu kembali. Aku tidak banyak berbicara. Aku lebih memilih mendengarkan. Dalam hati, aku teringat pada satu kalimat yang pernah kubaca dari Heraklitus: kita tidak pernah menginjak sungai yang sama dua kali. Airnya telah mengalir, dan orang yang menginjaknya pun telah berubah. Kupikir organisasi juga demikian. Momentum memang penting, tetapi waktu tidak pernah benar-benar mengulang dirinya.

Lalu tibalah bagian yang tidak pernah kulupakan.

Di tengah diskusi itu, beberapa orang menyampaikan penilaiannya tentang diriku. Empat dari dua puluh enam peserta mengatakan bahwa aku belum memiliki kapasitas untuk menjadi ketua. Ada yang menilai aku tidak memiliki senior yang cukup berpengaruh untuk menopang langkahku. Ada yang mengatakan aku tidak memiliki logistik dalam bentuk materi. Bahkan ada yang berpendapat bahwa ruang terbaik bagiku hanyalah menjadi Ketua Bidang Immawati, bukan memimpin organisasi secara keseluruhan.

Aku tidak menjawab apa pun.

Bukan karena aku setuju dengan semua penilaian itu, melainkan karena aku sadar bahwa tidak semua keraguan harus dibantah dengan kata-kata. Ada kalanya diam menjadi cara terbaik untuk menjaga diri tetap jernih. Malam itu aku memilih mendengarkan. Aku membiarkan setiap kalimat singgah di kepalaku tanpa membiarkannya menetap di hatiku.

Menjelang subuh, mekanisme pemilihan akhirnya dimulai. Suasana yang sejak tadi dipenuhi perdebatan mendadak berubah menjadi hening. Satu demi satu suara dihitung. Tidak ada lagi argumentasi. Tidak ada lagi lobi. Yang tersisa hanyalah pilihan setiap orang.

Saat hasil akhirnya dibacakan, aku menarik napas panjang.

Delapan belas suara memilihku.

Tiga orang memilih abstain.

Empat suara memilih kandidat lain.

Aku mengucap syukur pelan.

Bukan karena akhirnya terpilih, tetapi karena malam itu mengajarkanku sesuatu yang jauh lebih penting. Kepemimpinan ternyata tidak dimulai ketika semua orang percaya kepada kita. Kepemimpinan justru dimulai ketika kita tetap melangkah, meskipun sebagian orang menganggap kita belum layak sampai di sana.

Keesokan harinya, Ahad, 2 Agustus 2026, suasana jauh lebih tenang. Kami menyelesaikan pembahasan personalia, kemudian makan siang bersama Pak Syaifudin dan jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah sebelum kembali ke daerah masing-masing. Dalam perjalanan pulang, aku berkali-kali memandangi jalan dari balik jendela kendaraan. Yang kubawa pulang bukan sekadar hasil pleno, melainkan sebuah pelajaran bahwa kepercayaan tidak pernah datang dengan sendirinya. Kepercayaan harus dijaga, dirawat, dan dibuktikan setiap hari. Dan mungkin, itulah amanah terbesar yang kuterima dari dua hari di bawah matahari jingga dan bulan purnama Blora.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan #34: Matahari Senja dan Puzzle nya

Esai #13: Internialisasi Nilai Satra Dalam Pendidikan Karakter di Era Milenilal

Catatan Perjalanan #22: Lebaran Tahun ini, Mae pulang dulu